Pemerintah negara-negara
Barat tengah harap-harap cemas menunggu kabar resmi dari Aljazair. Warga
negara mereka tengah disandera gerombolan bersenjata yang berafiliasi
dengan al-Qaeda di negeri itu. Informasi memang masih simpang siur.
Korban tewas dilaporkan mencapai lebih dari 30.
Insiden ini
bermula pada Rabu pagi, menjelang subuh pekan ini. sekitar 20 orang
militan bersenjata yang dipimpin Mokhtar Belmokhtar menyerbu kilang gas
alami di In Amenas, sekitar 1.600 kilometer dari ibukota Alger. Nama
kelompok penyerbu ini memang masih belum jelas. Sejumlah media menulis
namanya sebagai "brigade bertopeng". Beberapa media lain menyebutnya
"brigade darah."
Meski nama kelompok ini simpang siru, Mokhtar
Belmokhtar sesungguhnya bukan nama asing di dunia milter Barat. Pria
yang matanya buta sebelah ini telah malang-melintang selama dua dekade
di dunia penculikan, penyelundupan, dan pembunuhan orang Barat di Afrika
Barat dan Utara. Oleh intelijen Prancis dia dijuluki sebagai "
the uncatchable" atau Yang Tidak Bisa Ditangkap.
Berlatih tempur di Afganistan sejak usia 19 tahun, pria yang kini berusia 40-an tahun ini adalah salah satu komandan tinggi di
al-Jama'ah al-Islamiyah al-Musallaha atau Kelompok Bersenjata Islam. Dia juga dijuluki
Mr. Marlboro karena memonopoli penyelundupan rokok di wilayah Sahel untuk membiayai jihad versi dia.
Kelompok
bersenjata ini kemudian menyandera 41 orang pekerja berkewarganegaraan
asing dan sekitar 200 pekerja Aljazair. Kedutaan Besar Republik
Indonesia dalam pernyataannya resmi Kamis kemarin menyampaikan bahwa
sebanyak 105 orang dibebaskan oleh penyandera, termasuk di antaranya
seorang
WNI berinisial AA yang kini tengah kembali ke tanah air.
Warga
asing yang ditahan di antaranya berasal dari Amerika, Inggris, Jepang,
Prancis, Norwegia, dan Irlandia. Sejak penyerbuan kelompok Mokhtar,
kilang gas itu dikepung bala tentara Aljazair.
Sebelumnya,
pemerintah negara tersebut menegaskan bahwa mereka tidak akan melakukan
negosiasi apapun dengan para teroris itu. "Kami katakan di hadapan para
teroris kemarin, sama seperti sekarang, tidak akan ada negosiasi,
pemerasan, tak ada ampun untuk teroris," kata Menteri Komunikasi,
Mohamed Said.
Benar saja, tidak ada basa-basi. Baku tembak terus
terjadi antara kubu pemerintah dan kelompok teroris ini. Kelompok ini
lantas meminta untuk memindahkan para sandera ke luar negeri. Melihat
gelagat hendak kabur, pasukan Aljazair menghajar.
Empat dari lima
mobil Jeep dihancurkan, ternyata di dalamnya ada para sandera. Sumber
pemerintah Aljazair yang tidak disebutkan namanya kepada
Reuters,
mengatakan bahwa 30 sandera tewas terbunuh. Beberapa di antaranya
adalah warga Jepang, Inggris dan Prancis. Sebelas anggota kelompok itu
dibunuh.
Akibat peristiwa ini, PM Jepang Shinzo Abe memutuskan
untuk tidak berlama-lama berada di Indonesia, yang menjadi salah satu
tujuan kunjungan kenegaraan ke Asia Tenggara. Beberapa acara pidato dan
pertemuan terpaksa dibatalkan.
Masih simpang siur informasi soal jumlah korban tewas. Beberapa media internasional mengabarkan jumlah berbeda, seperti
Daily Mail yang mengumumkan 35 sandera yang mangkat. Para kepala negara pusing tujuh keliling, was-was warga negaranya menjadi korban.
Perdana
Menteri Inggris, David Cameron, memperingatkan rakyatnya untuk bersiap
pada kemungkinan terburuk. Sampai saat ini, Inggris belum mendapatkan
informasi bahwa penyanderaan telah berakhir. Dia berpendapat, seharusnya
Aljazair merundingkan dulu dengan mereka sebelum menyerang. Sampai saat
ini, Cameron mengaku belum dapat kabar apapun dari Aljazair.
Keberatan
yang sama disampaikan oleh kepala negara Amerika Serikat, Jepang, dan
Norwegia. Diduga saat ini masih ada 22 sandera lainnya di kilang gas.
Tentara Aljazair masih terus mengepung lokasi tersebut.
Karena MaliDrama
penyanderaan ini buah dari penyerbuan pasukan Prancis ke Mali, negara
tetangga Aljazair, untuk mengusir al-Qaeda. Mokhtar menuntut hengkangnya
pasukan Prancis dari Mali yang ikut dalam operasi pemberantasan
al-Qaeda di negara tersebut.
Agresi Prancis bermula saat Presiden
interim Mali Dioncounda Traore meminta bantuan pada pemerintahan di
Paris, setelah ribuan pasukan al-Qaeda merebut kota Konna dari tangan
pemerintah.
Sebelumnya antara
pemerintah Mali dan kelompok separatis Gerakan Nasional Pembebasan
Azawad (MNLA) bertempur sengit sejak Januari 2012. Tuntutan MNLA sendiri
adalah kemerdekaan atau otonomi penuh utara Mali.
MNLA awalnya
didukung oleh kelompok Islam Ansar Dine, kelompok yang disebut radikal
oleh pemerintah setempat. Namun belakangan kedua kelompok ini pecah
setelah adanya perbedaan visi soal pembentukan negara Islam. MNLA kalah
dalam bentrokan senjata dengan Ansar Dine yang dibekingi oleh kelompok
Jihad Afrika Barat (MOJWA) yang merupakan sempalan Al-Qaeda di negara
Islam Maghreb (AQIM).
Kini, perang berubah
menjadi antara Mali dan AQIM. Al-Qaeda cabang Maghreb (Libya, Aljazair,
Maroko, Tunisia, Mauritius) adalah yang paling kuat dan paling kaya di
antara "waralaba" al-Qaeda lainnya.
Merasa punya utang masa
kolonial -Mali pernah dijajah Prancis-akhirnya Presiden Francois
Hollande menyetujui permohonan tersebut.
Konflik kali ini
sebenarnya adalah hasil dari keacuhan pemerintah Mali. Sebelumnya selama
berbulan-bulan, para diplomat dan politisi Barat, termasuk Menteri Luar
Negeri AS Hillary Clinton dan Presiden Prancis Francois Hollande telah
mendesak Mali untuk melakukan serangan militer terhadap kelompok ini.
Namun,
anjuran ini tak dihiraukan. Mali mengaku enggan terseret dalam
pertempuran yang dipimpin Barat dan terjadinya pertumpahan darah di
tanah air.
Pemerintah Aljazair awalnya malas meladeni kelompok
ini dan tidak mengusik mereka, namun terus mendorong mereka ke wilayah
selatan Sahara. Sebagai gantinya, kelompok Ansar Dine yang juga terdapat
di negara ini tidak menyerang fasilitas energi yang vital bagi
Aljazair.
Namun, "mesranya" hubungan kedua pihak terusik saat
pemerintahan Presiden Aljazair Abdelaziz Bouteflika memberikan izin bagi
pesawat tempur Prancis melintasi wilayah mereka untuk menggempur
kelompok militan di Mali. Bouteflika juga menutup perbatasan selatan
dengan Mali Utara, sekaligus juga menutup penyaluran bahan bakar dari
Aljazair kepada kelompok ini. .
"Hal ini menunjukkan bahwa
Aljazair tidak akan lagi membiarkan para teroris berbuat semau mereka,"
kata Francois Heisbourg, ahli di International Institute of Strategic Studies di London, Inggris, dilansir TIME.
Hal
inilah yang membuat kelompok Mokhtar geram dan menyerang fasilitas
energi di negara tersebut. Banyak pengamat yang mengatakan bahwa
kemungkinan kelompok Mokhtar ini berasal dari Mali Utara yang mencoba
cara lain memenangkan perang.
Kemampuan kelompok Mokhtar ini
luar biasa, menguasai medan dan taktik tempur. "Mereka memiliki aset
yang luar biasa dengan mobilitas komando yang ekstrem. Mereka bergerak
di malam hari tanpa lampu, dengan kecepatan tinggi, tanpa terdeteksi,"
kata Jean-Pierre Filiu, ahli soal Aljazair
dari Institute of Political Studies di Paris.
Perjanjian
untuk tidak menyerang fasilitas energi juga batal. Kelompok Mokhtar
menyerang kilang minyak di In Amenas. Fasilitas ini sangat penting bagi
Aljazair, karena menyumbang 60 persen pemasukan negara dan 95 persen
ekspor di sektor gas.
Fasilitas yang memompa sekitar seperlima
gas alam Aljazair ini adalah penyuplai gas terbesar ketiga ke Eropa dan
penyalur utama gas ke Amerika Serikat. Menurut Departemen Energi AS,
Aljazair juga memiliki 12,2 miliar barel cadangan minyak bumi, ke tiga
terbesar di Afrika setelah Libya dan Nigeria.
Segelintir kelompok
perlawanan ini masih terus bertahan di lokasi tersebut. Puluhan sandera
yang ketakutan masih dalam cengkeraman mereka. Belum jelas identitas
dan dari negara mana saja sandera berasal.
Pemerintah Aljazair
menolak berunding, sesuai dengan larangan untuk membayar tebusan kepada
yang disebut pemerintah Mali sebagai teroris itu. Sebelumnya PBB memang
mencanangkan larangan membayar itu tahun 2010. Larangan ini didukung
penuh oleh Aljazair yang melihat kekuatan dan kekayaan AQIM yang semakin
besar.
Dari komplek kilang gas, sandera mengisahkan horor yang
terjadi. Beberapa sandera mengaku diikatkan kalung bom yang bisa meledak
sewaktu-waktu. Mereka juga harus berlindung dari peluru yang berdesing
di atas kepala mereka.
"Situasinya semakin memburuk. Kami khawatir karena baku tembak terus terjadi," kata seorang sandera asal Irlandia pada Al Jazeera.
Sumber : Viva.co.id